PendahuluanSetiap dalam perkembangan hidup mereka. Proses belajar mereka

PendahuluanSetiap anak pasti mengalami proses “belajar” dan berkembang dalam perkembangan hidup mereka. Proses belajar mereka didapat tidak hanya dari sekolah, namun dari keluarga dan masyarakat memiliki kontribusi yang cukup banyak. Apalagi di rumah peran orang tualah yang sangat penting dalam membangun sebuah karakter anak yang baik karena orang tua sebagai guru pertama mereka di rumah. Namun, anehnya sebagian anak di antaranya justru terkadang mengalami proses belajar hidup yang sama sekali tidak menyenangkan bagi mereka di rumah bahkan terkadang mereka menganggap suasana di rumah terasa mengerikan sehingga lingkungan sebayanya atau teman sebaya menjadi tempat berpijak yang membebaskan anak untuk berkembang sesuai dengan yang mereka inginkan walaupun hal tersebut bertentangan atau menyimpang bagi mereka. Disadari atau pun tidak disadari pengalaman belajar anak yang tidak menyenangkan di rumah dapat berakibat buruk pada perkembangan karakter dan moral anak. Pastinya hal ini akan sangat menyedihkan bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak sebagai generasi penerus bangsa. Sekolah dan masyarakat turut pula membantu dalam  menanamkan pendidikan karakter pada anak. Usaha bersama dengan masing-masing memberikan kontribusi dalam pengembangan totalitas kepribadian atau karakter anak itu sendiri. Di dalam pendidikan karakter, sebagaimana yang disosialisasikan oleh Kemendikbud pada tahun 2010, 2011 mengenai pentingnya pendidikan karakter yang diberikan kepada anak-anak di sekolah dengan mengintegrasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Oleh sebab itu sebagai guru atau pendidik, perlu memiliki kesadaran akan perannya dalam membangun karakter anak yang baik dengan melihat betapa banyak rintangan yang dapat merusak kepribadian anak.Menanamkan pendidikan karakter yang baik kepada anak-anak dapat dilakukan baik oleh orang tua maupun guru dengan menyediakan literatur atau bahan bacaan yang baik dan memiliki pesan moral kebajikan kepada anak sehingga anak akan memiliki kepribadian dan karakter yang baik pula dalam kehidupannya. Paper ini akan membahas mengenai makna dari pendidikan karakter sekarang ini, peran sekolah dalam pendidikan karakter serta mengintegrasikan pendidikan karakter dengan kurikulum melalui buku bacaan anak-anak.PembahasanPendidikan Karakter Kata Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”. Istilah ini berfokus pada tindakan atau tingkah laku. Istilah karakter juga identik dengan istilah budi pekerti. Istilah budi pekerti ini didefinisikan oleh Nurchasanah dan Lestari (dalam Zakia) yang berarti perangai (akhlak) untuk dapat menimbang hal baik atau buruk serta benar atau salah terhadap sesuatu. Selain itu, Ditjen Kementerian Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas atau keunikan setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, bangsa dan negara. Setiap orang yang berkarakter baik adalah orang yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang telah ia perbuat. Karakter juga sering diartikan dengan kata moral. Nilai moral atau moralitas merupakan nilai yang mengatur kehidupan manusia, baik sebagai pribadi yang bermatabat maupun dalam rangka mengatur hubungan keharmonisan di dalam bermasyarakat. Dalam menanamkan nilai moral, tentu saja sekolah berperan dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang baik daripada yang buruk kepada anak-anak atau siswa mereka, tetapi nilai apa pun yang ditanamkan kepada anak-anak atau siswa akan menyebabkan kebiasaan intelektual dan moral kebiasaan yang akan menjadi perilaku anak tersebut.  Pendidikan karakter adalah dorongan kebajikan kepada anak. Definisi lain mengatakan pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan seperti dijelaskan dalam UU Sisdiknas No 20 Pasal 3 Tahun 2003 bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Untuk mewujudkan tujuan tersebut seharusnya pendidikan karakter diberikan pada anak-anak sejak dini. Pendidikan karakter anak disesuaikan dengan perkembangan moral pada anak. Menurut Piaget (1965), perkembangan moral meliputi tiga tahap, yaitu (1) premoral, (2) moral realism, dan (3) moral relativism. Sementara Kolhberg (Power, Higgins, & Kohlberg, 1989) menyatakan bahwa perkembangan moral mencakup (1) preconventional, (2) conventional, dan (3) postconventional. Hakikat dari kedua teori tersebut sama, yaitu pada tahap awal anak belum mengenal aturan, moral, etika, dan susila. Kemudian, berkembang menjadi individu yang mengenal aturan, moral, etika, dan susila dan bertindak sesuai aturan tersebut. Pada akhirnya, moral, aturan, etika dan susila ada dalam diri setiap anak, di mana perilaku ditentukan oleh pertimbangan moral dalam dirinya bukan oleh aturan atau oleh keberadaan orang lain; meskipun tidak ada orang lain, ia akan malu untuk melakukan hal-hal yang tidak etis atau tidak seharusnya, tindakan asusila dan tindakan idak bermoral.Peran Sekolah dalam Menanamkan Pendidikan Karakter AnakPeran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan, baik secara formal mainpun informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan yang menjelaskan hal-hal yang seseorang harus lakukan atau perbuat dalam situasi tertentu sehingga dapat memenuhi harapan mereka sendiri atau harapan orang lain yang menyangkut peran terssebut.Menanamkan karakter pada anak pertama kali mulai dibentuk dari pendidikan dalam keluarga. Sementara itu dalam perkembangan usia anak, sekolah dan masyarakat mulai terlibat dalam menanamkan dan mengembangkan kepribadian dan karakter anak. Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk mengurangi perilaku-perilaku destruktif pada anak dan remaja dan orang dewasa bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Perilaku destruktif ini merupakan perilaku yang dapat merusaka kepribadian dan karakter anak. Perilaku ini terjadi karena kurangnya keteladanan baik orang tua atau guru secara langsung maupun tidak langsung. Penanaman nilai kebaikan yaitu tentang nilai-nilai kejujuran, kebajikan yang berakar pada agama, budaya atau kesepakatan umum seperti budi pekerti dan keteladanan sangat penting dilakukan secara terus menerus sejak anak-anak.Pendidkan karakter  anak di sekolah dinyatakan sukses apabila, seorang pendidik atau guru dalam proses pengajarannya berhasil mempengaruhi secara pikiran sehingga dapat berpikir kreatif dan inovatif dalam belajar. Selain itu seorang pendidik juga harus mempengaruhi dan memelihara secara emosional (artistik emosional anak) dengan kepedulian, kebersamaan, kepatuhan, kerja sama, saling menghargai, saling menghormati, jujur, tanggung jawab, dan sebagainya. Apalagi sekolah berperan penting karena anak-anak lebih banyak waktu bersama guru dan teman sebayanya di sekolah. Menciptakan situasi belajar yang demokratis sangat membantu dalam mengembangkan anak yang bertanggung jawab dan bermoral. Sekolah sebagai lembaga yang melakukan pelayanan pada masyarakat dengan menekankaan secara sosial, moral dan akademis bertanggung jawab dengan mengintegrasikan pendidikan karakter pada semua disiplin materi pembelajaran atau disetiap aspek dari kurikulum. Sebagaimana yang ada pada Pusat Kurikulum (tahun 2010) menekankan 18 nilai yakni  religius,  jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi dan bersahabat/komunikatif.Mengintegrasikan Pendidikan Karakter Anak dengan KurikulumSalah satu cara termudah untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dengan kurikulum adalah melalui literatur yang kita gunakan bersama anak didik untuk kegiatan belajar. Kilpatrick, Wolfe, dan Wolfe (1994) mengungkapkan alasan pentingnya menggunakan studi literatur sebagai sarana utama dalam pendidikan karakter, termasuk fakta bahwa cerita memberikan gambaran tentang peran baik yang harus diperhatikan dan juga aturan-aturan yang harus dijalani. Guroian (1998) sepakat bahwa penggunaan cerita jauh lebih efektif daripada hanya sekadar memberikan pengajaran karakter yang digunakan untuk membangkitkan apa yang selama ini disebut sebagai imajinasi moral. Ia beserta Bettelheim (1989) secara khusus menganjurkan penggunaan dongeng dalam pendidikan karakter.Pemilihan Literatur AnakPemilihan BukuO’Sullivan (2002) menegaskan bahwa berbagai macam literatur anak dapat digunakan dalam pendidikan karakter selama guru dapat memilih buku yang tepat, mampu memahami secara kritis buku-buku tersebut, dan selama studi literatur dikhususkan untuk pengembangan karakter. Berikut ini adalah jenis buku-buku yang direkomenddasikan dalam pendidikan karakter: Buku yang ditulis dengan baik yang berisi tentang pembahasan moral. Seperti Princess Furball (Charlotte Huck, 1989) untuk anak-anak umumatau Lyddie (Katherine Paterson, 1991) untuk remaja. Buku dengan kandungan yang cukup mendalam untuk digunakan sebagai perubahan melampaui pemahaman literal. Seperti buku bergambar Knots on a Counting Rope (Bill Martin Jr & John Archambault, 1987) atau buku The Giver (Lois Lowry, 2002). Buku dengan karakter yang mengagumkan namun dapat dipercaya, dengan menggunakan karakter yang usianya sama. Seperti Thundercake (Patricia Polacco, 1990) untuk siswa sekolah dasar hingga menengah pertama dan The Moorchild (Eloise McGraw, 1996) untuk siswa menengah atas. Buku dengan berbagai budaya serta adanya anak laki-laki dan perempuan sebagai tokoh utama. Seperti buku bergambar The Rough-Face Girl (Rafe Martin, 1992) atau buku Esperanza Rising (Pam Munoz Ryan, 2000). Semakin dalam dan kaya sebuah literatur, maka semakin kuat pula karakternya, serta semakin mempermudah siswa dalam mengikuti pendidikan karakter secara alami dalam studi pustaka. Jika sebuah buku dipilih dengan baik, mungkin karakter yang tampil akan memiliki banyak ciri-ciri yang layak untuk dipelajari, dimengerti, dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi oleh pembaca muda. Dalam hal ini, yang dibutuhkan hanyalah sedikit partisipasi untuk memusatkan perhatian kita dalam bidang tersebut. Jadi mulai sekarang marilah kita pilih buku-buku anak yang baik untuk digunakan dalam pendidikan karakter.Buku-Buku BergambarBerbagai jenis buku yang dibaca, pastinya akan memberikan informasi. Begitu pun buku apa pun yang diterbitkan pasti diharapkan akan mampu menginformasikan isi dari buku tersebut. Dalam konteks ini, buku dibedakan dalam dua permasalahan yang berbeda, yaitu buku informasi dan buku cerita. Dasar pengelompokkan buku ini dilihat dari penggunaan ilustrasi yang menggunakan gambar sebagai medianya. Penggunaan media gambar difungsikan sebagai wahana pengembangan cerita. Jadi, dengan mempelajari ilustrasi yang digunakan oleh penulis, anak dapat mengelompokkan buku tersebut. Barikut ini contoh buku bergambar yang menanamkan pendidikan karakter anak:Miss Rumphius karya Barbara Cooney tahun 1982.Penggalan kisah di dalam buku tersebut  yaitu “kami mengikuti kehidupan seorang wanita yang melakukan perjalanan luas, tidak pernah menikah, dan memiliki gagasan independen untuk memperbaiki dunia. Kami bertemu dengan Miss Rumphius saat masih muda ketika kakeknya mengatakan kepadanya bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk menjadikan dunia lebih indah. Sepanjang hidupnya Miss Rumphius menunjukkan kebebasan, ketenangan, keberanian, serta kepeduliannya terhadap lingkungan.”Pendidikan karakter yang dapat ditanamkan kepada anak dari kisah tersebut yaitu berani mencoba melakukan sesuatu hal, mengajarkan anak akan pentingnya memiliki tujuan hidup, mengajarkan anak atau siswa dalam menulis cerita tentang cita-cita mereka.The Rough-Face Girl karya Rafe Martin tahun 1992.Buku tersebut berkisah dalam versi orang Amerika yang bercerita  tentang Cinderella di mana dua saudari yang dibanggakan dan cantik tidak menikahi makhluk tak terlihat, hal itu dikarenakan kelemahan dan  keburukan karakter mereka. The Rough-Face Girl tidak cantik, namun dia memiliki hati yang murni dan dinilai pantas menikahi makhluk tak terlihat karena hanya ia sendiri yang dapat melihatnya.Pendidikan karakter yang dapat ditanamkan kepada anak dari kisah tersebut yaitu anak atau siswa dapat membedakan mana karakter yang baik dan karakter yang buruk dalam cerita. A Chair for My Mother karya Vera B. Williams tahun 1982.Buku tersebut menceritakan tentang keluarga matriarki yang terdiri dari seorang nenek, ibu tunggal, dan seorang gadis kecil yang bekerja sama untuk membangun kembali kehidupan mereka setelah mereka terpisah karena apartment mereka terbakar. Tetangga dan keluarga ingin membantu banyak kebutuhan mereka, tapi itu terserah mereka dengan pertimbangan untuk menghemat uang agar dapat membeli kursi yang lembut.Pendidikan karakter yang dapat ditanamkan anak dalam cerita tersebut yaitu terdapat kutipan-kutipan mengenai kebajikan atau nilai-nilai karakter. Setelah itu siswa akan ditanya oleh guru mengenai ciri-ciri karakter yang terdapat dalam kutipan tersebut.Menghormati yang Berbeda karya Tita Marlita tahun 2007.Buku tersebut mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga. Terdapat empat tokoh utama yaitu Toni, Rina, Ibu dan  Ayah. Toni berumur 11 tahun dan duduk di kelas V SD Bhinneka. Toni adalah anak  yang periang dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia juga aktif dan selalu bertanya mengenai segala hal yang tidak ia mengerti. Rina adalah kakak perempuan Toni, ia duduk di kelas 2 SMA di sekolah Bhinneka juga. Ibu Nina adalah ibu dari Toni dan Rina. Ia bekerja di Departemen Sosial. Meski sibuk, ia sangat memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Pak Herman adalah ayah Toni dan Rina. Ia bekerja sebagai manajer hubungan masyarakat di sebuah perusahaan multinasional. Pak Herman adalah orang yang tegas, berwibawa, berwawasan luas, mudah bergaul dan selalu siap membantu jika diperlukan. Ada tokoh-tokoh lain yang akan muncul dalam cerita selain keempat tokoh utama tersebut antara lain teman-teman Toni dan Rina.Pendidikan karakter pada yang terdapat dalam kisah buku tersebut untuk ditanamkan kepada anak yaitu rasa saling menghormati dengan jenis kelamin yang berbeda, Menghormati suku minoritas, menghormati pemeluk agama yang berbeda, dan menghormati penyandang disabilitas. Chapter Book (Bab Buku)The Hundred Dress karya Eleanor Estes tahun 1944.Buku tersebut menceritakan tentang sebuah kelompok gadis terkenal mengejek gadis lain karena hidup dalam kemiskinan. Salah satu gadis dalam kelompok itu,  Maddie, tidak seperti apa yg sebagian besar kelompok itu lakukan tetapi berusaha untuk berhenti mengejek gadis miskin. Gadis miskin itu perlahan menjauh dari kelompok gadis itu. Saat menjauh ia menemukan 100 gaun. kelompok gadis itu, terutama Maddie, tidak memiliki cara untuk meredakan rasa bersalah mereka selama mereka mengejek.Pendidikan karakter yang dapat ditanamkan anak dalam buku tersebut yaitu tidak boleh mengejek seseorang hanya karena dia orang miskin. Tetapi sesama manusia harus mampu untuk saling membantu dan menolong dan berbuat kebajikan kepada orang tidak mampu.In Bridge to Terabithia karya Katherine Peterson tahun 1977Buku tersebut merupakan buku tentang penilai yang menemukan roh dalam. Keduanya memiliki kepribadian yang kompleks dan terpadu, dan ini membedakan mereka di kelas mulai kelas lima, yang merajalela dengan klise jender. Jess dan Leslie menampilkan banyak kualitas yang bisa dikagumi lainnya. Jess adalah kambing hitam di rumah, namun dia memperlakukan orang tuanya dengan ramah.  Dia memiliki kemampuan merefleksi diri, dan ketika dihadapkan dengan dilema moral ia mengakui dan mencoba untuk berpikir melakukan hal yang tepat. Misalnya ketika ia berhadapan dengan pengganggu adiknya. Jess mengerti harus menghentikan bullying tapi juga mengerti pelakunya layak menerima belas kasih. Keadaan leslie juga membawa ia menjadi pribadi yang baik. Terutama saat memberi kasih sayang, kebaikan kesetiaan dan kerendahan hati pada Jess. Dan dia mengakui banyak yang ia dapat dari persahabatannya dengan jess. Jess dan Lesli juga punya kekurangan, Lesli sebagai seorang pengganggu di kelas, dan Jess seorang yang tidak sabar.Pendidikan karakter yang daapat ditanamkan dalam buku tersebut yaitu  mengajarkan anak untuk menjadi pribadi yang baik dengan memiliki rasa kasih sayang, berbuat baik, setia kawan, sabar dan rendah hati. Serta menghindari perilaku negatif seperti membully, mengganggu orang, tidak sabar.A Wrinkle in Time karya Madeleine L’Engle tahun 1962.Buku tersebut merupakan buku klasik lain yang tidak sempurna namun memiliki karakter mulia. Seperti in Bridge to Terabithia, karakter utama juga menampilkan banyak sifat mengagumkan, seperti keberanian, belas kasih, disiplin, dan kejujuran. Meg dan Charles Wallace adalah saudara perempuan dan saudara laki-laki, dan teman mereka, Calvin, semuanya memulai perjalanan fantasi untuk menyelamatkan ayah Meg dan Charles Wallace dari kejahatan. Dalam cerita baik versus jahat ini, Meg terutama diminta untuk dewasa dengan cepat. Perjalanan mengharuskannya untuk lebih menerima diri, lebih percaya diri, lebih berani, dan lebih memberi daripada sebelumnya pada kehidupan sekolahnya.Namun buku tersebut ditolak tetapi tetap dipertahankan oleh Dewan Sekolah Negeri Catawba di Newton, North Carolina (1996). Para orang tua meminta agar buku tersebut ditarik dari perpustakaan sekolah karena diduga merusak kepercayaan agama, sekaligus buku tersebut mengirimkan sinyal campuran kepada anak-anak tentang kebaikan dan kejahatan. Buku tersebut dilarang di sekolah Anniston, Alabama pada tahun 1990. Para orang tua tersebut juga menolak untuk mencantumkan nama Yesus Kritus dan nama-nama seniman hebat, ilmuwan filsuf, dan pimpinan agama saat merujuk pada pembela bumi melawan kejahatan.Walaupun buku terssebut ditolak, terdapat pendidikan karakter yang dapat ditanamkan oleh anak yaitu mengajarkan anak akan karakter mulia seperti keberanian, belas kasih, disiplin, dan kejujuran.Buku DongengMenurut Dudung dongeng adalah bentuk sastra lama yang bercerita tentang kejadian luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) dan tidak benar-benar terjadi. Selain itu, Kamisa (dalam Zakia, 2017) menjelaskan bahwa pengertian dongeng adalah cerita yang disampaikan atau dituliskan yang bersifat hiburan dan biasanya tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan. Dongeng merupakan suatu bentuk karya sastra yang ceritanya tidak benar-benar tejadi atau fiktif yang bersifat menghibur dan terdapat ajaran moral yang terkandung dalam cerita dongeng tersebut. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dongeng adalah cerita fiktif yang bertujuan untuk menghibur dan mengandung nilai-nilai budi pekerti di dalamnya yang dapat ditanamkan dalam pribadi anak. Dongeng terbagi menjadi tujuh jenis, di antaranya: mitos, sage, fabel, legenda, cerita lucu, cerita pelipur lara, dan perumpamaan. Penjelasan dari jenis-jenis dongeng tersebut antara lain: (1) Mitos merupakan bentuk dongeng yang menceritakan hal-hal magis seperti cerita tentang dewa-dewa, peri atau Tuhan. (2) Sage merupakan dongeng yang mengisahkan tentang keberanian, kepahlawanan, kesaktian, atau sihir seperti sihir dongeng Gajah Mada. (3) Fabel merupakan dongeng tentang binatang yang dapat berbicara atau berperilaku seperti manusia. (4) Legenda merupakan bentuk dongeng yang menceritakan tentang sebuah peristiwa tentang asal-usul suatu benda atau tempat. (5) Cerita jenaka merupakan cerita yang berkembang di masyarakat dan dapat membangkitkan tawa atau humoris. (6) Cerita pelipur lara merupakan dongeng berbentuk narasi yang bertujuan untuk menghibur tamu di pesta dan kisah yang diceritakan oleh seorang ahli. (7) Cerita perumpamaan: bentuk dongeng yang mengandung kiasan, contohnya adalah didaktik dari Haji Pelit. Cerita tersebut tumbuh dan berkembang di daerah dan dinamakan cerita lokal.Dongeng memiliki beberapa manfaat bagi anak yaitu mengajarkan budi pekerti pada anak, membiasakan budaya membaca anak, mengembangkan daya imajinasi anak dan memiliki nilai-nilai moral yang dapat dimanfaatkan sebagai sumberpembentukkan karakter anak. Berikut contoh cerita dongeng yang syarat akan pesan moral. Dongeng berjudul “Gajah dan si Kerbau”, penggalan cerita tersebut.”Seekor gajah yang bersahabat dengan seekor kerbau pembajak milik dari petani desa. Setiap kali kerbau membajak sawah, gajah selalu menemaninya. Pada suatu hari pak tani berpesan pada kerbau agar menjaga barang-barangnya biar tidak diambil oleh monyet liar dari hutan. Dari dulu kerbau ingin sekali jalan-jalan kehutan mumpung pak tani pergi lalu ia mengajak gajah, kata gajah “sebaiknya kamu memasukkan gerobak itu dulu karena banyak barang-barang pak tani didalamnya, kalau dicuri oleh monyet liar itu bisa-bisa pak tani marah”. Tapi kerbau tidak mendengarkannya kerbau tetap berangkat ke hutan tanpa memasukkan gerobak kedalam gudang. Alhasil setelah kerbau kembali ternyata barang –barang pak tani hilang dicuri monyet…..”Nilai pendidikan karakter (pesan moral) yang terdapat dari dongeng tersebut yaitu kita harus menjalankan amanat atau pesan yang apa telah seorang sampaikan merupakan suatu hal yang harus dilaksanakan demi menjaga kepercayaan orang tersebut kepada diri kita. Sehingga dari cerita dongeng tersebut anak-anak akan mulai belajar untuk menjalankan pesan yang telah orang misalnya: orang tua, guru, dan sebagainya yang disampaikan kepada dirinya.  SimpulanPenddidikan karakter merupakan proses pendidikan yang diarahkan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku pada diri seseorang yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti yang baik di dalam diri orang tersebut. Pendidikan karakter sangat penting ditanamkan dalam diri anak-anak sejak usia dini. Pendidikan karakter yang pertama dibentuk mulai dari orang tua atau keluarga di rumah karena mereka adalah pendidikan karakter pertama bagi anak. Tujuan dari pendidikan karakter ini yaitu agar anak terhindar dari perilaku destruktif atau perilaku yang dapat merusaka diri anak itu sendiri. Selain dari keluarga, pendidikan karakter berikutnya yang didapat oleh anak yaitu dari sekolah dan masyarakat. Namun disinilah peran sekolah sangat penting dalam menanamkan karakter yang baik pada anak. Peran sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter pada anak-anak dimulai dengan menciptakan situasi belajar yang demokratis sehingga sangat membantu dalam mengembangkan anak yang bertanggung jawab dan bermoral. Sekolah sebagai lembaga yang melakukan pelayanan pada masyarakat dengan menekankaan secara sosial, moral dan akademis bertanggung jawab dengan mengintegrasikan pendidikan karakter pada semua disiplin materi pembelajaran atau disetiap aspek dari kurikulum. Mengintegrasikan kurikulum dengan pendidikan karakter yang dapat dilakukan oleh sekolah yaitu dengan melalui literatur atau bacaan-bacaan anak. Dari berbagai contoh literatur anak seperti yang telah dijelaskan di atas diharapkan anak dapat memiliki karakter yang baik seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi dan bersahabat/komunikatif.SaranDalam menanamkan pendidikan karakter anak bukan hanya sekolah saja yang memiliki peran penting dan sangat berperan aktif. Melainkan peran dari keluarga juga harus turut serta karena peran dari keluargalah sangat membantu, serta pendidikan karakter anak pertama kali didapat dari orang tua atau keluarga. Peran sekolah dalam menanamkan pendidikan karakter anak melalu literatur anak juga harus lebih ditingkatkan lagi. Bacaan-bacaan anak juga lebih kembangkan. Sehingga anak akan lebih mudah dalam membentuk karakter baik dalam diri mereka.